Tuhan Tak Pernah Tertidur
Hari itu adalah hari yang tak akan pernah kulupakan walaupun kejadian mungkin sekitar 20 tahun yang lalu. Waktu itu aku masih duduk di kelas 2 SD, dan bersama dengan salah seorang kakak laki-lakiku kami mengikuti ayah yang akan melakukan perjalanan mengunjungi sebuah desa terpencil di Sulawesi Tengah.
Aku mengingat dengan jelas hari-hari itu. Kami berangkat dari Palu di hari Sabtu. Dengan rombongan 2 buah mobil, aku menumpangi mobil landrover ayahku bersama dengan ayah, orang kepercayaan ayahku, om Sofyan yang menyetir mobil dan beberapa teman gereja ayahku, kami pun memulai perjalanan kami. Sepanjang perjalanan dilalui dengan sukacita dengan pemandangan alam yang luar biasa, meskipun medan yang harus kami lalui cukup berat. Bayangkan saja jalan perintisan di Sulawesi Tengah yang berkelok-kelok dibatasi oleh tebing yang terjal dan jurang yang curam.
Kami tiba di desa itu (aku sudah tak dapat lagi mengingat namanya) dengan selamat. Begitu senang bisa tiba di tempat yang baru dengan suasana yang begitu ‘desa' dan sederhana. Sulit terjangkau, tapi sudah ada perintisan gereja di sana. Itulah sebabnya gereja kami waktu itu memutuskan pergi berkunjung ke sana dengan mengutus beberapa orang termasuk ayahku. Di sana, kami disambut dengan meriah. Aku masih dapat mengingat rasa makanannya yang begitu lezat khas pedalaman, seperti paniki (kelelawar), tikus putih, celeng (babi hutan) dan beberapa jenis makanan lainnya. Aku juga masih dapat mengingat rumah panggung tempat kami berkumpul, dan di bawah rumah panggung itu masih menjadi bagian dari hutan sehingga aku dapat melihat kecoa yang ukurannya besaaaaarrrrr sekali berjalan-jalan di atas daun-daun di bawah kami.
Keesokan
harinya setelah kembali mengadakan ibadah Minggu dan kembali menikmati
hidangan yang super-duper lezat, kami pun bersiap-siap untuk pulang
kembali ke kota Palu. Tapi di tengah perjalanan beberapa kejadian
menegangkan harus kami lalui. Setelah semalaman terjadi hujan yang
cukup deras, dalam salah satu bagian jalan kami menemukan tanah longsor
yang sangat menyulitkan untuk dilewati oleh mobil kami.
Meskipun demikian, setelah seluruh penumpang turun terlebih dahulu, dengan penuh keberanian om Sofyan mencoba melewati longsoran tanah berlumpur yang sangat berbahaya. Ketika om Sofyan sedang mencoba melewati jalan yang sangat licin itu, dengan penuh kengerian kami semua melihat bagaimana mobil itu tanpa terkontrol terdorong ke arah jurang. Om Sofyan terus berjuang agar mobil bisa terus maju dan tidak terus terdorong ke pinggir. Sedikit lagi masuk jurang, ada sesuatu yang menahan roda mobil yang belakangan kami ketahui adalah sebuah kerikil kecil sehingga membuat mobil landrover ayahku yang besar itu tidak terdorong masuk ke jurang tapi maju dan sampai ke tempat yang aman. Betapa terheran-heran dan takjubnya kami ketika melihat hal itu terjadi, bagaimana sebuah batu kerikil yang kecil dapat menahan mobil yang begitu besar sehingga tidak terjerumus ke dalam jurang yang dalam. Kalau bukan karena Tuhan, tidak ada alasan lain yang mampu masuk dalam logika manusia saat itu. Mukjizat pertama Tuhan tunjukkan.
Setelah mobil berhasil melewati salah satu rintangan yang berbahaya, kami pun dengan penuh ucapan syukur melanjutkan perjalanan. Dan lagi-lagi nyawa kami terhadang maut. Di salah satu bagian jalan yang tidak terlalu terlihat karena jalan yang gelap (saat itu sudah malam), ban mobil kami terperosok ke dalam aspal yang longsor karena gerusan air hujan. Kontan mobil kami pun miring ke arah jurang. Entah apa yang terjadi, tapi sepertinya segenap bala tentara surga sedang bersama kami saat itu. Mobil kami tidak langsung terguling ke jurang tapi hanya tergantung setengah di atas jalan dan setengah badan mobil di atas jurang. Sontak teriakan kengerian dan kepanikan terjadi di dalam mobil. Mobil rombongan lainnya sudah terlebih dahulu ada di depan kami sehingga tidak mengetahui musibah yang kami alami dan tidak ada yang menolong kami saat itu.
Aku
mengingat dengan jelas ketika saat itu ayahku berteriak meminta semua
orang untuk tenang dan tidak bergerak. Lalu kami pun merasakan mobil
yang bergoyang, rasanya seperti di ayunan tapi bayangkan posisi mobil
saat itu yang sedang tergantung di jurang. Dengan gerakan perlahan,
ayahku meminta semua orang untuk bergerak ke arah bagian mobil yang
tergantung di jalan dan keluar pelan-pelan. Dan sekali lagi, ajaib
Tuhan, kami semua dapat keluar dengan selamat. Lalu dengan segala
peralatan terbatas yang ada di dalam mobil, mobil pun dapat ditarik
keluar dari jalur jurang dan kami dapat melanjutkan perjalanan. Sekali
lagi mukjizat Tuhan nyata dalam kehidupan setiap kami.
Setiap kali aku dapat mengingat kejadian ini, hanya ucapan syukur yang dapat aku panjatkan. Karena aku tahu, aku ada saat ini karena ada tangan Tuhan yang menuntun dan menjagaiku dalam setiap langkah kehidupanku. Dan keyakinan itu tidak akan pernah pudar ketika aku menyadari bahwa Tuhan memang tidak pernah tertidur. Tuhan memakai hal-hal kecil yang ada di sekitarku untuk menyatakan keselamatan yang daripada-Nya.

Visitors :9838 Org
Hits : 118443 hits
Month : 360 Users